Subscribe Twitter Facebook

Rabu, 18 April 2012

Perasaan yang tersembunyi

Aku tidak bermaksud untuk mengusikmu ataupun mengganggu rutinitasmu. Seperti hal-hal sederhana yang selalu kamu ceritakan kepadaku.

Kamu selalu sibuk mengurusi hari-harimu, lalu membagi waktumu untuk belajar dikampus.

Jadi, apa kabarmu hari ini? setelah sekian lama kita tak saling berkabar, nampaknya ada banyak yang berubah, dan mungkin saja ada banyak hal baru yang tidak ku ketahui. Tapi, aku berharap agar dirimu tak pernah berubah, meskipun kita memang tak terlalu sering bertatapan mata.

Aku dan kamu selalu meyakinkan diri kita masing-masing, bahwa ini bukan cinta. Kita selalu yakin kalau ini bukan cinta, bukankah kita hanya teman yang saling menguatkan satu sama lain? Bukankan semua kebersamaan nyata dan maya ini adalah wujud perhatian sederhana? Tapi......... ternyata ada pergerakan hati yang lajunya tak kita sadari. Memang taka ada candu, tapi kita mampu saling menyangkal diri kalau ada sosok nyata yang disebut rindu.

Tak ada panggilan sayang ataupun sepotong percakapan yang dilakukan secara intensif, tapi hal itu tak menghalangi kita untuk saling mendoakan. Mungkin, inilah definisi perhatian yang sebenarnya. Tak perlu di lebih-lebihkan, tak perlu di tunjukkan. Perhatian menunjukan tubuhnya sendiri, walau tak terikat status, walau terpisah jarak beratus.

Ceritakan padaku tentang rencana masa depanmu. Kita terlalu jarang berbicara tentang itu. Ceritakan padakau tentang apa yang selama ini kamu rasakan. Aku dan kamu selalu takut untuk mengetahui kenyataan. Di sinilah batas keteguhan hati kita di uji, seberapa besar kekuatan doamu dan doaku saling menyentuh dan menghangatkan satu sama lain. Inilah keterbatasan kita sebagai manusia yang tidak utuh. Walau tak ada tatapan mata, tapi hati terus berkata-kata. Selama ini kita terlalu rela dibunuh oleh jarak. Selama ini kita terlalu rapuh di permainkan oleh waktu. Akankah ini saatnya untuk menyadarkan diri? Bahwa tak ada apa-apa diantara kita. Bahwa tak ada kembang api atau kupu-kupu yang menari indah di dalam hati kita.

Namun.... semakin aku memaksakan diri untuk mengetahui, semakin aku merasa tak mengerti.

Ah... bagaimanapun rumitnya permasalahan kita, aku dan kamu tetap saja senang menyangkal diri. Kita belum siap di repotkan oleh perasaan aneh yang meletup-letup walau dalam kebisuannya itu. Aku dan kamu masih menikmati masa-masa ini.

Kita masih ingin Tuhan merahasiakan rencanaNYA. Bukankan aku dan kamu senang pada hal-hal yang tak pasti? Iyaa... seperti apa yang kita jalani selama ini, karena sesuatu yang tak pasti menyembunyikan banyak tantangan tersendiri.

Masih banyak perasaan yang benderang namun tak terdengar oleh telinga kita.

Dan aku berharap suatu saat nanti aku dan kamu akan bertemu lagi. Aku merindukan mata minusmu yang terlihat bening dibalik kacamata yang kamu pakai. Kala itu... kamu begitu mempesona :D 



dari..........

entah harus disebut siapa

yang jelas

aku selalu mendoakan kebahagiaanmu



Terinspirasi dari karya blog  

http://dwitasarii.blogspot.com/



0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger